Home » Editorial » Vaksin Corona dan Masa Revolusi

Vaksin Corona dan Masa Revolusi

02.19.2021
Share Berita

SUARAPUBLIK.CO.ID | Dewasa ini seluruh dunia sedang dipersoalkan dengan virus yang mewabah cepat dan belum usai dibinasakan. Corona Virus Disaese 2019 (Covid 19), menjadi momok bagi warga dunia.

Virus yang mulai terjangkit di Kota Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok ini, terus menjalar ke penjuru dunia, termasuk Indonesia. Bahkan, sudah setahun berlalu virus ini masih terus mengancam kesehatan masyarakat.

Pemerintah akhirnya membeli vaksin Covid-19 buatan Tiongkok bernama Sinovac. Vaksin ini didistribusikan ke masyarakat secara gratis. Tujuannya, agar pencegahan penyebaran Covid-19 di Indonesia bisa tertanggulangi.

Pro-kontra terjadi dimasyarakat. Ada yang menolak dilakukan vaksinasi. Ada pula ikhlas menerima karena kebutuhan antibodi dimasa pandemi seperti ini.

Peristiwa wabah penyakit seperti ini, pernah terjadi dimasa revolusi Indonesia. Lantas, bagaimana ceritanya. Mari simak nukilan tulisan berikut seperti dilansir Historia.Id. berjudul “Vaksin Darurat Masa Revolusi”. Tulisan: Hendaru Tri Hanggoro, terbit pada 13 Januari 2021.

Begini nukilannya:

Prof. Dr. Satrio. Nama ini sohor sebagai salah satu jalan utama di Jakarta. Tak banyak orang tahu siapa sosok ini dan apa yang telah dilakukannya sehingga namanya diabadikan. Dia seorang dokter tentara yang berjasa dalam memberikan vaksin cacar kepada penduduk Banten Selatan dan Bogor pada masa revolusi kemerdekaan.

Cerita pemberian vaksin oleh dr. Satrio bermula pada Desember 1948. Kala itu, Belanda berupaya merebut sejumlah wilayah Banten seperti Serang, Pandeglang, dan Rangkasbitung dari Republik. Pejuang-pejuang Republik melawan upaya itu dengan perang gerilya.

Dr. Satrio ikut bertugas membantu pejuang gerilya Republik sesuai surat kawat dari Markas Besar Tentara. Dia tergabung dalam Brigade Tirtayasa dan beberapa kali mengurus pejuang-pejuang yang terluka atau gugur. Tapi penugasannya di wilayah Gunung Karang, Banten Selatan, menggerakkan dirinya turut membantu rakyat.

“Dalam perjalanan kembali ke daerah selatan, saya mendapat informasi dari penunjuk jalan bahwa di antara penduduk ada penyakit cacar,” kata dr. Satrio kepada Mona Lohanda dkk. dalam Perjuangan dan Pengabdian: Mosaik Kenangan Prof. Dr. Satrio 1916–1986.

Dr. Satrio mendatangi kampung tersebut dan melihat fisik para penduduknya. “Bisul-bisul bernanah kecil-kecil tersebar di kulit. Tidak saya ragukan memang ini adalah vario vera menurut istilah kedokteran Latin dan bukan cacar air,” tutur dr. Satrio.

Para penduduk di kampung tersebut menderita cacar lebih dari tiga tahun. Selama pendudukan Jepang, tak pernah ada vaksinasi cacar. Jika dibiarkan, cacar akan menjadi epidemi. Sebab cacar menular cepat.

Masalahnya, dr. Satrio tak punya vaksin cacar sehingga tak bisa memberi penduduk vaksin cacar segera. Dia juga merasa tak mampu memisahkan para penderita cacar dengan penduduk yang masih sehat. “Dalam keadaan darurat gerilya, kedua-duanya tak mungkin,” kenang dr. Satrio.

Peristiwa ini terus membebani pikiran dr. Satrio hingga kembali ke markasnya. Dia berbagi cerita dengan rekan-rekannya. Menurut seorang rekannya, ada seseorang di Malingping, wilayah pantai di Banten Selatan, yang mungkin bisa membantu dr. Satrio. Orang itu bernama Suria dan pernah bekerja sebagai mantri cacar.

Tak menunggu lama, dr. Satrio lekas menuju Malingping bersama tiga orang tenaga kesehatan. “Dr. Satrio menempuh perjalanan 4 hari mencari vaksin di tempat mantri cacar Suria,” catat Tim Departemen Kesehatan dalam Sejarah Kesehatan Nasional Jilid 1.

Dr. Satrio berhasil menemui Suria. Dia mendapat 30 ampul (wadah gelas bening yang bagian lehernya menyempit) vaksin cacar dari Suria. Jumlah itu untuk menyuntik 100 orang. Tapi itu belum memecahkan masalah.

Dr. Satrio memprediksi jumlah ampul tersebut masih kurang untuk penduduk Banten Selatan. Selain itu, mereka tak punya zat pelarut vaksin, yaitu gliserin. Mereka harus mencari pelarut ini. Tanpa pelarut, vaksin tak bisa digunakan.

Dr. Satrio menanyakan ke Suria bagaimana kalau 30 ampul vaksin itu jadi modal untuk membuat vaksin sendiri. Suria bersedia membantu. Dia juga mengatakan pernah praktik membuat sendiri vaksin cacar dari kulit kerbau.  

Dr. Satrio dan Suria mencatat kebutuhan mereka. Gliserin, kerbau, penggiling untuk bahan-bahan vaksin, dan botol-botol untuk menaruh vaksin.

Ketika berembug tentang pelarutnya, Suria ingat sebuah apotek atau gudang obat di Bayah, Banten Selatan. Di sana mungkin tersedia gliserin. “Tulis saja nota, pasti akan diperoleh glycerin sebanyak yang diperlukan,” kata Pak Suria, seperti dikutip Matia Madjiah dalam Dokter Gerilya. Hasilnya dua botor gliserin datang dalam dua hari. 

Masalah berikutnya mencari kerbau sehat. Dr. Satrio dan Suria sempat kesulitan. Tapi kabar bagus diperoleh dari seorang perwira daerah. Dia memastikan kerbau sehat tersedia. Kerbau sehat diperlukan untuk menularkan vaksin cacar ke kulitnya.

Dari penularan tersebut akan muncul bisul di kulit kerbau. Kemudian kerbau disembelih dan bisulnya dikerok untuk digiling agar menjadi seperti bubur. Setelah digiling kering, bahan itu dilarutkan dengan gliserin lalu dimasukkan ke wadah vaksin. Sisa daging kerbaunya dipastikan aman dan dibagikan ke penduduk. “Kerbau kita telah amat berjasa sebagai pembiak vaksin,” kata dr. Satrio.

Setelah memperoleh gliserin dan kerbau, dr. Satrio dan Suria mencari alat penggiling bahan vaksin. Tak ada gilingan vaksin, gilingan kopi pun jadi. Untuk wadahnya, mereka menggunakan batang pohon pisang. Di dalam wadah demikian, vaksin akan bertahan tiga minggu.

Semua tahap pembuatan vaksin mengambil tempat di Bojong Kirai. Semua proses berjalan sesuai rencana. Dari modal 30 ampul vaksin untuk 100 orang, dr. Satrio dan Suria berhasil melipatgandakannya menjadi untuk 20.000 orang.

Dr. Satrio dan Suria bersama timnya menjajaki tiap tempat di Banten Selatan sampai ke Bogor untuk memvaksin penduduk. Tujuannya agar penduduk yang sehat kebal terhadap penyakit cacar. Mereka sering melewati daerah rawa penuh lintah. Darah mereka terhisap oleh lintah. Tapi langkah mereka tetap mengalir. Mereka berhasil menemui penduduk di banyak desa.

Tak ada penduduk menolak vaksin. Malah mereka senang dengan kedatangan dr. Satrio dan timnya. Mereka juga manut ketika tim meminta ada pemisahan antara penderita cacar dan penduduk yang sehat.

Selama perjalanan itu, dr. Satrio dan timnya telah memvaksin hampir 300 ribu orang. Jika vaksin habis, mereka akan membuat vaksin baru di tempat tersebut selama bahan-bahannya tersedia. Sisa bahan vaksin dari kerbau dapat digunakan untuk bekal makanan di perjalanan. Misalnya paha kerbau yang diolah jadi dendeng.

Sebenarnya memvaksin penduduk bukan tugas utama dr. Satrio sebagai dokter tentara. “Walaupun tugas utama saya melayani tentara, namun jika rakyat sekelilingnya menderita wabah cacar, tentu tentara juga dapat ketularan dan mati… Jika kami dapat menolong rakyat, hal itu berarti bahwa kami membantu pemerintah RI dalam menyelamatkan rakyat,” kata dr. Satrio. [Zoelva/Historia


Share Berita

POPULER

TERKAIT

Berita Terbaru

Nova Lantik Dailami sebagai Wakil Bupati Bener Meriah

Nova Lantik Dailami sebagai Wakil Bupati Bener Meriah

SUARAPUBLIK.CO.ID, Bener Meriah | Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah resmi mengambil sumpah dan melantik Dailami sebagai Wakil Bupati [Wabup] Bener Meriah sisa jabatan 2017-2022 dalam sidang paripurna DPRK Bener Meriah. Sidang Paripurna tersebut dipimpin oleh Ketua...

Irfansyah Episentrum Komitmen Perjuangan Politisi Muda

Irfansyah Episentrum Komitmen Perjuangan Politisi Muda

SUARAPUBLIK.CO.ID, Langsa | Anggota DPR Aceh termuda Irfansyah, menjadi salah satu politisi Fraksi Partai Aceh yang menjadi episentrum komitmen perjuangan politisi muda. Hal ini ditandai dengan peluncuran Ambulance gratis, diperuntukkan sebagai armada kaum jelata,...

Jurnalis Menembak Tutup Pelaksanaan HPN di Bener Meriah

Jurnalis Menembak Tutup Pelaksanaan HPN di Bener Meriah

SUARAPUBLIK.CO.ID, Bener Meriah | Bupati Bener Meriah secara resmi menutup seluruh rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) Ke-75 di Bener Meriah Tahun 2021. Dalam kegitan jurnalis menembak yang diselenggarakan di Batalyon Kompi 3 Brimob, Pante Raya, Kecamatan Wih...

Peringati HPN ke-75: Wartawan Bener Meriah Mempromosikan Objek Wisata

Peringati HPN ke-75: Wartawan Bener Meriah Mempromosikan Objek Wisata

SUARAPUBLIK.CO.ID, Bener Meriah | Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) ke-75, wartawan Bener Meriah yang tergabung dalam tiga organisasi yakni, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Persatuan Wartawan Bener Meriah (PEWABER), dan Seketeriat Berasama (Sekber)...

Marzuki Hamid Serahkan Bungong Jaroe untuk Wartawan

Marzuki Hamid Serahkan Bungong Jaroe untuk Wartawan

Keterangan Foto:Ketua PWI Kota Langsa, Putra Zulfirman menerima bingkisan 'bungong jaroe' dari Wakil Walikota Langsa. SUARAPUBLIK.CO.ID, Langsa | Wakil Walikota Langsa, Dr H Marzuki Hamid MM menyerahkan 'Bungong Jaroe' untuk pengurus dan anggota Persatuan Wartawan...

About the Author

Redaksi

Comments

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *