SUARAPUBLIK.CO.ID – MEDAN |Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU) kembali menghadirkan beragam perspektif akademik dalam rangkaian kegiatan Summer Course 2026 bertajuk “North Sumatra Cultural Heritage: Documentation and Fostering Sustainability”. Memasuki hari ketiga, Rabu (23/9/2026), kegiatan yang berlangsung di Gedung Serbaguna FIB USU ini membahas literasi visual, identitas budaya, sejarah Deli, pelestarian pengetahuan lokal melalui artefak digital, serta tradisi lisan dan kearifan lokal Batak Toba.
Rangkaian perkuliahan pada hari ketiga menghadirkan empat sesi akademik dengan menghadirkan akademisi dari dalam dan luar negeri. Topik-topik tersebut dirancang untuk memperluas pemahaman peserta tentang kekayaan warisan budaya Sumatera Utara serta pentingnya dokumentasi dan pelestarian budaya di tengah perkembangan zaman.
Sesi pertama dibuka dengan materi “Unpacking the Intersection of Visual Literacy, Media, and Cultural Identity” yang disampaikan oleh Lusia Marliana Nurani, Ph.D., dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam sesi yang dimoderatori oleh Windi Chaldun tersebut, peserta diajak untuk mendalami keterkaitan antara literasi visual, media, dan pembentukan identitas budaya.
Pembahasan ini menjadi relevan di tengah pesatnya perkembangan media dan teknologi visual yang memengaruhi cara masyarakat memahami, merepresentasikan, dan mewariskan identitas budayanya.
Selanjutnya, Prof. Drs. Syaifuddin, M.A., Ph.D. menyampaikan materi bertajuk “Deli, North Sumatra: The Promised Land”. Dengan Windi Chaldun sebagai moderator, sesi ini mengangkat Deli sebagai salah satu kawasan penting dalam sejarah Sumatera Utara.
Materi tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk menelusuri sejarah dan dinamika kawasan Deli, sekaligus memahami konteks historis yang membentuk keragaman sosial dan budaya Sumatera Utara.
Pada sesi ketiga, Prof. Aurelio P. Vilbar, Ph.D., dari University of the Philippines Cebu, Filipina, membawakan materi berjudul “Digital Artifacts as Intercultural Bridges: Preserving and Transmitting Local Knowledge Systems”. Sesi yang dimoderatori oleh Fikry Prastya Syahputra, S.S., M.Si. ini menyoroti potensi artefak digital sebagai jembatan antarbudaya dalam mendokumentasikan, melestarikan, dan mentransmisikan sistem pengetahuan lokal.
Perspektif internasional yang dihadirkan dalam sesi ini memperkaya diskusi mengenai pemanfaatan teknologi digital untuk menjaga keberlanjutan pengetahuan tradisional, sekaligus membuka peluang pertukaran pengetahuan lintas budaya.
Rangkaian kegiatan hari ketiga ditutup dengan materi “Oral Tradition, Culture, and Toba Batak Local Wisdom” yang disampaikan oleh Dr. Tomson Sibarani, S.S., M.Hum., dengan Fikry Prastya Syahputra, S.S., M.Si., sebagai moderator.
Sesi ini mengangkat tradisi lisan sebagai bagian penting dari kehidupan budaya masyarakat Batak Toba. Tradisi lisan tidak hanya berfungsi sebagai sarana pewarisan cerita dan nilai-nilai budaya, tetapi juga sebagai medium untuk meneruskan pengetahuan, pandangan hidup, dan kearifan lokal dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Melalui materi tersebut, peserta memperoleh perspektif tentang pentingnya mendokumentasikan tradisi lisan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan warisan budaya masyarakat Batak Toba.
Keempat sesi pada hari ketiga menunjukkan bahwa pelestarian warisan budaya memerlukan pendekatan multidisipliner, mulai dari kajian media dan identitas budaya, penelusuran sejarah, pemanfaatan teknologi digital, hingga pendokumentasian tradisi lisan dan pengetahuan lokal.
Melalui penyelenggaraan Summer Course 2026, FIB USU terus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman akademik lintas institusi maupun antarnegara. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman peserta terhadap kekayaan budaya Sumatera Utara sekaligus mendorong upaya dokumentasi dan pelestarian warisan budaya agar tetap relevan dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. [SP-03]













0 Komentar