Lima Kasus Kekerasan Terparah di Indonesia

thejakartapost.com

Pluralitas dan keberagaman bangsa Indonesia bukanlah mitos, melainkan fakta dan realita yang ada di depan mata. Semboyan Bhineka Tunggal Ika yang tercantum dan menjadi bagian dari lambang negara, merupakan gambaran kesatuan geopolitik dan geobudaya di Indonesia, yang terdiri dari beragam etnis, suku bangsa, bahasa, ide, agama, dan ideologi.

Namun seiring perjalanan waktu, kebhinekaan itu tercederai oleh terjadinya berbagai kasus dan konflik kekerasan yang mengatasnamakan etnis, agama, ideologi, dan sebagainya. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Yayasan Denny JA dalam rilis survei bertajuk ‘Dicari Capres 2014 yang Melindungi Keberagaman’, mengungkap lima kasus kekerasan terburuk yang pernah terjadi. “Lima kasus itu adalah kasus kekerasan antar etnis di Maluku dan Maluku Utara, Dayak versus Madura di Sampit, kerusuhan Mei 1998, Transito Mataram, dan Lampung Selatan. Pada kasus-kasus itu ditemukan fakta sebagai lima terburuk,” ujar Ketua Yayasan Denny JA, Novriantoni Kahar di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta, Minggu (23/12).

Berikut lima fakta terburuk dari lima kasus tersebut, yang dilihat dari fakta jumlah korban, lamanya konflik, luas konflik, kerugian materi, dan frekuensi berita:

1. Konflik Maluku dan Maluku Utara
Akibat kerusuhan ini, sekitar 8 ribu sampai 9 ribu korban meninggal dunia dan 700.000 warga lainnya mengungsi. Kasus ini juga mengakibatkan kerugian materi berupa 29.000 rumah hangus terbakar, 7.046 rumah rusak, serta 45 masjid, 57 gereja, 719 toko, 38 gedung pemerintah, dan empat bank hancur. Dengan lama konflik mencapai empat tahun, yakni dari 1999 sampai 2002, konflik ini mencakup luasan sampai tingkat provinsi. Konflik ini juga menjadi pemberitaan dengan frekuensi sebanyak 147 ribu item di Google Search lewat kata kunci “kerusuhan Ambon”.

2. Konflik Dayak versus Madura
Dengan lama waktu konflik mencapai 10 hari pada 2001, konflik ini menelan 469 korban jiwa sementara 108 ribu warga mengungsi. Kerugian materi akibat konflik ini terdiri atas 192 rumah hangus terbakar dan 748 rumah rusak serta 16 mobil dan 43 sepeda motor hancur. Cakupan konflik terjadi dari Kota Sampit ibukota Kotawaringin Timur melebar ke Kota Palangkaraya, Kuala Kapuas, dan Pangkalanbun. Dari segi pemberitaan, konflik ini memiliki 41 ribu  item dengan kata kunci “Kerusuhan Sampit” di Google Search.

3. Kasus Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta
Boleh dibilang ini merupakan kasus kekerasan terburuk yang pernah terjadi. Tercatat 1.217 korban meninggal dunia, 85 wanita diperkosa, dan 70 ribu  warga mengungsi. Dengan rentang waktu konflik selama tiga hari, dari 13 sampai 15 Mei 1998, cakupan konflik mencapai se-Provinsi DKI Jakarta. Total kerugian akibat kerusuhan adalah sekitar Rp2,5 triliun. Frekuensi pemberitaan di Google Search dengan kata kunci “Kerusuhan 13-15 Mei 1998″ sebanyak 24.700 item berita.

4. Kasus Ahmadiyah Lombok atau Transito Mataram
Kasus ini menelan 9 korban jiwa, 8 luka-luka, 9 gangguan jiwa, 379 terusir, 9 dipaksa cerai, 3 keguguran, 61 putus sekolah, 45 dipersulit membuat KTP, dan 322 dipaksa keluar dari Ahmadiyah. Lama konflik berlangsung hingga 7 kali, dimana penyerangan yang masif terjadi antara 1998 dan 2006. Cakupan konflik mencapai empat wilayah provinsi, yakni Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, dan Kota Mataram. Kerugian materi akibat kasus ini diantaranya, 11 tempat ibadah dan 114 rumah rusak, dengan 64,14 hektar tanah terlantar, 25 tempat usaha rusak, dan ratusan harta benda rusak dan dijarah. Melalui kata kunci “Penyerangan Ahmadiyah Lombok” di Google Search, konflik ini mempunyai 30.800 item pemberitaan.

5. Konflik Lampung Selatan
Konflik ini menewaskan 14 orang, belasan lainnya luka parah, dan 1.700 warga mengungsi. Cakupan luas konflik meliputi dua kecamatan, yakni Kalianda dan Way Panji dengan lama konflik mencapai tiga hari, dari 27 hingga 29 Oktober 2012. Akibat konflik ini, total kerugian mencapai Rp24,88 miliar, 532 rumah rusak dan dibakar. Dengan kata kunci “Bentrok Lampung Selatan 28 Oktober 2012″, konflik ini memiliki 80.700 item pemberitaan di Google Search.